Jatuh Hati
February 28, 2026"Paling kamu cuma penasaran," ujarku pada diri sendiri.
Tapi sebetulnya sudah lama aku tidak merasakan ketertarikan seintens ini. Sudah lama aku tidak tertarik pada seorang laki-laki dalam waktu yang cukup panjang, dan entah mengapa ketertarikannya tidak juga berkurang meski dari berbagai sumber aku mendengar berbagai kekurangannya. Selain kecerdasan dan pengetahuannya yang membuatku terus tertarik, ada faktor lain yang tidak bisa kujelaskan.
Kebetulan satu dan lainnya selalu tak bisa kutanggapi dengan biasa, hari-hari tak sengaja berpapasan, atau obrolan yang tidak bisa dipahami orang lainnya. Meski sudah kubilang pada diriku sendiri, "contain yourself, you're not a highschooler anymore", tapi setiap bertemu, baik sengaja maupun tidak, ada perasaan yang ramai namun menyamankan, ada kupu-kupu yang hinggap, namun tidak gusar.
Waktu-waktu sepi yang kulalui dengan diriku sendiri selalu diselipi dengan fikiran, "apa kuhubungi saja ya?" Usiaku sudah tak muda, pun juga dia, ditambah karakter asliku yang memang tidak suka berlama-lama pada ketidakpastian. Tapi, rasa malu yang Allah berikan padaku ternyata lebih besar. Semua fikiran spontan itu selalu berakhir hanya "hampir".
Maka akhirnya, setiap kali aku terfikirkan, yang kulakukan adalah berdoa. Doa yang biasa diungkapkan hamba-hamba Allah yang sedang jatuh hati: "Ya Allah, jika dia jodohku, maka permudahlah jalan kami untuk saling menemukan dan bersatu, namun jika bukan, maka lapangkanlah perasaan hamba." Entah mengapa yang kali ini, aku ingin melakukannya dengan cara yang benar, tanpa memaksa, tanpa banyak menganalisis sendiri.
Kusadari bahwa semua teori manusia tentang cinta banyak sekali bentuknya, banyak sekali alur cerita untuk orang yang berbeda-beda. Sekian lama aku berusaha menemukan pasangan dengan teoriku yang selalu kurasa cukup, meski tidak sempurna. Lama aku menyusun kriteria dan berteori tentang cerita orang lain, bahkan hingga menjodohkan berbagai pasangan.
Namun untuk diriku sendiri, kali ini, satu kali ini, aku ingin menyerahkannya saja pada Allah, tanpa terbebani untuk melakukan akrobat tarik-ulur atau manuver lainnya.
Perasaanku sudah memberikan sinyal, berbagai kebetulan sudah terjadi. Jika kesempatan itu ada, maka aku tidak akan ragu memilih. Jika ia kemudian datang, maka aku akan menyambutkan dengan kalimat syukur kepada Allah dan menerimanya sebagai sebuah jawaban.
Tapi jika ini menjadi hal lain yang kembali numpang lewat saja, maka aku akan selalu mengingat kata-kata Umar bin Khattab bahwa:
Hatiku tenang, karena apa yang melewatkanku tidak akan pernah menjadi takdirku, dan apa yang ditakdirkan untukku tidak akan pernah melewatkanku.
Lalu aku akan kembali bersabar, menerima apa yang menjadi takdir Allah, dan terus melanjutkan perjuangan dalam kesendirian.
0 comments