Untukmu di Masa Depan yang Kuharap Tak Lagi Terlalu Jauh
February 24, 2026Malam ini, Bapak bercerita tentang mimpinya punya anak-anak yang sukses meneruskan usahanya.
"Kamu yang paling pintar, kamu bisa mengarahkan adik-adikmu supaya usaha keluarga ini membawa lebih banyak lagi keuntungan," kata beliau sambil menatapku. Beliau melanjutkan cerita tentang bagaimana aku bisa membantu mewujudkan mimpinya untuk punya perusahaan raksasa yang berkeuntungan fantastis. Membantu banyak orang, katanya, khususnya keluarga besar.
Sejak beliau mulai bercerita, mataku sudah berkaca-kaca. Ketika cerita itu berjeda, kuberanikan diri menyuarakan apa yang ada di dalam fikiran sedari sebelumnya, "tapi aku punya visiku sendiri, aku punya cita-citaku sendiri," ujarku singkat.
Bapak masih berusaha mengimingi mimpinya, berkata bahwa hidupku akan lebih nyaman dan sejahtera, bahkan mengesankan bahwa hanya aku, diantara ketiga anaknya, yang mampu membantunya mewujudkan mimpinya itu.
Kudengarkan petuah Bapak dengan tegar, sebagaimana yang selalu kulakukan di setiap kali beliau berkisah. Kupahami mengapa Bapak menilaiku lebih mampu dibandingkan kedua adikku. Pertama, tentu karena aku lebih tua. Kedua, boleh jadi karena aku yang sudah membuktikan ketegaran dan kegigihan. Ketiga, nampaknya karena aku satu-satunya yang tak pernah bergeming mendengarkan kisah beliau.
Sebagai anak pertama perempuan, aku memang harus menjadi yang paling siap mendengarkan, yang paling dewasa, yang paling mampu merendahkan diri untuk meminta maaf, meskipun kerap kesalahan terbesar bukan pada diriku. Tapi juga, sebagai anak pertama perempuan, hidupku sendiri mengajarkan ego berbentuk idealisme, membuatku sangat ingin berdiri di atas apa yang kuyakini sendiri, berjuang pada jalan yang kutentukan sendiri, mewujudkan apa yang kucitakan sendiri, terlepas dari pengaruh siapapun, bahkan Bapak sekalipun.
Dalam tahun-tahun ke belakang yang kembali kuhabiskan di rumah, kami belajar saling menghargai batasan sebagai sesama orang dewasa. Orangtuaku memberiku ruang-ruang privasi untuk diriku sendiri dan berusaha menerima bahwa aku sudah memiliki identitas sendiri yang tidak selalu terikat pada kedua beliau. Namun selalu ada, saat di mana Bapak punya ego bahwa anaknya adalah miliknya dan oleh karenanya harus mau mewujudkan citanya, seperti malam ini.
Meski sebagai upaya hidup harmonis aku pun berupaya menurunkan ego dan banyak berusaha memahami orangtua, tapi masih ada saat di mana aku berharap kedua beliau bisa memahamiku lebih banyak. Masih ada keinginan agar dimengerti betapa aku terobsesi melakukan hal yang benar tanpa keinginan untuk menjadi selalu benar, betapa aku kerap merasa berdosa melihat sesama manusia yang hidup berkekurangan di saat hidupku serba cukup, betapa aku berani mengambil sikap politik sebagaimana keyakinanku, betapa aku membenci kolusi, korupsi, terlebih nepotisme. Kerap muncul keinginan agar sedikit saja nilai diriku ini bisa diterima sehingga tidak perlu ada perdebatan ketika kami berdiskusi soal kebijakan tertentu atau pilihan politik tertentu, serta ketika, seperti saat ini, kami berdiskusi soal visi masing-masing.
Akhirnya yang lebih sering terjadi, aku hanya mendengar dengan senyum dalam diam. Tapi dengan satu kalimat singkatku tadi dan mataku yang berkaca-kaca, Mama berusaha membelaku, "kalau mau mengarahkan, anak laki-laki saja, karena anak perempuan itu nanti akan berkeluarga dan berimam pada suaminya," ujar Mama, membuat Bapak cukup terdiam.
Kata-kata Mama menutup perbincangan kami malam ini.
Aku, yang sudah kembali menata emosi, kemudian berbaring sejenak terfikirkan, dan akhirnya memutuskan untuk menulis.
Untukmu, calon imamku, jika Allah takdirkan aku berjodoh dengan seorang laki-laki di bumi ini selama aku hidup, aku ingin kamu membaca ini. Sekilas aku terlihat dominan, tapi sebetulnya aku orang yang sungkan, terutama terhadap keluarga. Aku akan dengan sangat mudah memendam semua keinginan dan egoku sendiri ketika dihadapkan pada kepentingan orangtuaku, atau nanti ke depannya, suamiku, karena aku lebih memilih mencari ridha dari Allah SWT. Aku bisa selalu tersenyum dan terlihat baik-baik saja, bahkan tanpa memendam perasaan apapun demi keharmonisan dalam keluarga.
Tapi...
Kuharap kamu mau mendengarkan keinginanku dan tidak memaksakan keinginanmu. Mau juga menghargai visi dan nilai hidupku yang selalu menjadi pertimbangan utama dalam seluruh keputusan hidup yang kuambil. Kuharap cintamu bisa membuatmu menghargaiku, sebagaimana aku dan orangtuaku saling menghargai karena kami saling mencintai satu sama lain, terlepas dari sebegitu jauhnya perbedaan visi dan nilai kami.
Kuharap kamu bisa, karena begitu aku membuatnya mudah untukmu, artinya aku memercayaimu. Aku percaya kamu mampu menjadi imamku.
Sebab jika aku tidak percaya, kamu akan berakhir seperti yang lainnya.
0 comments