Entah dari jendela mana lagi aku harus melihat untuk bisa memperoleh gambaran jelas tentangmu. Sebab semua jendela telah tertutup untukku.
Perihal masa depan adalah rahasiaNya. Apa yang bisa dilakukan manusia selain mempersiapkan diri untuk menghadapi masa depan? Berusaha, berdoa, lalu bersabar.
Kita perlu bersiap diri untuk menghadapi masa depan. Kita boleh melihat kembali ke masa lalu dan belajar dari apa yang telah terjadi. Tapi kita hidup untuk hari ini. Jadi hargailah apa yang ada saat ini. Setiap detik yang berlalu, proses, dan segala pembelajaran. Sebab ketika hari ini berlalu, bagi kita, makhluk yang senantiasa berubah terhadap waktu, tak akan ada kata kembali untuk menjalani sesuatu yang telah berlalu.
Jika biasanya pertanyaan datang dari banyak orang, saya justru malah bertanya kepada diri saya sendiri.
“Kenapa FTSL? Kenapa Teknik Sipil?”
Jurusan ini bahkan tidak pernah terbesit sekalipun sampai dua bulan sebelum pendaftaran SNMPTN Undangan ditutup. Saya ingat sekali mengapa tiba-tiba jurusan ini muncul dibenak saya: karena angket. Saat itu sekitar bulan November semester kelima saya di Insan Cendekia. Guru BK kami, Ibu Rini, meminta kami untuk menuliskan universitas dan jurusan harapan kami di secarik kertas. Sebanyak mungkin yang terpikir oleh kami.
“Kenapa FTSL? Kenapa Teknik Sipil?”
Jurusan ini bahkan tidak pernah terbesit sekalipun sampai dua bulan sebelum pendaftaran SNMPTN Undangan ditutup. Saya ingat sekali mengapa tiba-tiba jurusan ini muncul dibenak saya: karena angket. Saat itu sekitar bulan November semester kelima saya di Insan Cendekia. Guru BK kami, Ibu Rini, meminta kami untuk menuliskan universitas dan jurusan harapan kami di secarik kertas. Sebanyak mungkin yang terpikir oleh kami.
Apa yang saya tulis? Saya sendiri kurang yakin. Mungkin Aerospace Engineering, atau Teknik Informatika, atau Matematika? Entahlah, saya lupa. Yang saya pikirkan waktu itu adalah saya mampu berjuang di jurusan apapun, kecuali yang berkaitan dengan biologi. Wajar mengingat nilai biologi saya memang jarang selamat dari remedial.
Lalu, iseng, saya mengintip kertas milik teman-teman saya yang lain. Muncul lah jurusan-jurusan baru untuk saya jadikan referensi: Teknik Elektro, Teknik Sipil, Teknik Industri, Teknik Perminyakan, Teknik Metalurgi, Meteorologi, Geodesi, dan jurusan-jurusan lainnya yang masih berputar di teknik.
Dari semua referensi jurusan yang saya miliki, saya hari itu juga melingkari Teknik Sipil. Begitu saja. Tanpa alasan A, B, C. Hanya merasa bahwa itulah jalan saya. Hanya merasa bahwa dengan itu saya akan bisa berbuat banyak. Hanya merasa bahwa saya mampu menikmatinya.
Mulai hari itu ketika teman-teman bertanya saya mau kuliah dimana, saya akan langsung menjawab “FTSL ITB” dengan mantap, tanpa keraguan, seakan keputusan itu telah saya ambil sejak lama dengan pertimbangan yang sangat matang.
Lalu beberapa bulan setelahnya, pengumuman undangan keluar dan saya lulus, saya menjadi mahasiswa FTSL ITB 2014. Alhamdulillah. Satu lagi nikmat Allah SWT yang seringkali saya lupakan. Bahwa saya diberi kesempatan untuk berkuliah, di ITB pula, di jurusan satu-satunya yang saya pilih ketika saya mendaftar SNMPTN Undangan.
Saya menjalani masa-masa TPB dengan cukup santai. Teman-teman yang lain berjuang untuk jurusan idamannya. Lalu saya sendiri? Jarang belajar, hanya memanfaatkan apa yang saya dapatkan di kelas. Jarang mengerjakan tutorial kecuali jika ditugaskan, hanya membaca buku kumpulan soal. Saya menjalaninya biasa saja, dengan target yang masih memungkinkan saya untuk berkemahasiswaan di terpusat. Saya tidak tahu apakah saya masih berdiri di atas pilihan yang sama pada saat itu. Diantara lima pilihan jurusan di FTSL, apakah saya akan tetap memilih Teknik Sipil saat kenaikan tingkat nanti? Atau saya akan berpindah? Saat itu saya gamang. Saya tidak tahu apa yang harus saya perjuangkan. Saya belum memilih lagi, dan saya pun belum pasti bertahan pada pilihan yang sama.
Setahu teman-teman yang lain, saya selalu bertahan pada pilihan awal. Tapi Ibu saya tahu, seperti apa saya bingung dan meminta pendapat beliau tentang jurusan apa yang memungkinkan untuk saya ambil. Orang lain boleh tahu keresahan saya setelah saya berhasil keluar dari keresahan tersebut.
Mei 2015, kadwil cukup membantu saya. Saya membuka mata terhadap jurusan-jurusan lain. Bertanya lebih banyak, mendapat jawaban lebih banyak. Saya tetap belum bisa condong ke salah satu diantara lima. Maka saya melakukan sistem eliminasi. Saya urutkan jurusan-jurusan FTSL sesuai dengan minat dan kemampuan saya hingga menyisakan satu jurusan di urutan pertama: Teknik Sipil. Maka malam itu, saya mengambil keputusan untuk yang kedua kalinya. (Jika ada yang pernah mendengar saya mengemukakan alasan-alasan yang berbau idealisme, mereka muncul setelah saya mengambil keputusan. Beberapa kalimat itu bukan menjadi alasan mengapa saya memilih, tapi ide-ide yang muncul setelah saya memilih.)
Berbulan-bulan telah berlalu sejak keputusan pertama jatuh. Hari ini saya ingin mencari, sebelah mana dari langkah yang telah saya ambil yang kira-kira keliru? Bagian mana yang salah sehingga beberapa hari belakangan ini saya selalu bertanya-tanya, “Kenapa saya ambil Teknik Sipil?”? Kenapa semakin saya mendalami ilmu ini justru keilmuan lain yang terlihat lebih menarik? Apa saya salah jurusan? Tapi saya sendiri tidak tahu mau jurusan apa kalau bukan yang saya jalani sekarang ini. No idea. So, in conclusion, I’ll just let times flow. ‘Cause, once I step forward, there is no way back, isn’t it?
Dari semua referensi jurusan yang saya miliki, saya hari itu juga melingkari Teknik Sipil. Begitu saja. Tanpa alasan A, B, C. Hanya merasa bahwa itulah jalan saya. Hanya merasa bahwa dengan itu saya akan bisa berbuat banyak. Hanya merasa bahwa saya mampu menikmatinya.
Mulai hari itu ketika teman-teman bertanya saya mau kuliah dimana, saya akan langsung menjawab “FTSL ITB” dengan mantap, tanpa keraguan, seakan keputusan itu telah saya ambil sejak lama dengan pertimbangan yang sangat matang.
Lalu beberapa bulan setelahnya, pengumuman undangan keluar dan saya lulus, saya menjadi mahasiswa FTSL ITB 2014. Alhamdulillah. Satu lagi nikmat Allah SWT yang seringkali saya lupakan. Bahwa saya diberi kesempatan untuk berkuliah, di ITB pula, di jurusan satu-satunya yang saya pilih ketika saya mendaftar SNMPTN Undangan.
Saya menjalani masa-masa TPB dengan cukup santai. Teman-teman yang lain berjuang untuk jurusan idamannya. Lalu saya sendiri? Jarang belajar, hanya memanfaatkan apa yang saya dapatkan di kelas. Jarang mengerjakan tutorial kecuali jika ditugaskan, hanya membaca buku kumpulan soal. Saya menjalaninya biasa saja, dengan target yang masih memungkinkan saya untuk berkemahasiswaan di terpusat. Saya tidak tahu apakah saya masih berdiri di atas pilihan yang sama pada saat itu. Diantara lima pilihan jurusan di FTSL, apakah saya akan tetap memilih Teknik Sipil saat kenaikan tingkat nanti? Atau saya akan berpindah? Saat itu saya gamang. Saya tidak tahu apa yang harus saya perjuangkan. Saya belum memilih lagi, dan saya pun belum pasti bertahan pada pilihan yang sama.
Setahu teman-teman yang lain, saya selalu bertahan pada pilihan awal. Tapi Ibu saya tahu, seperti apa saya bingung dan meminta pendapat beliau tentang jurusan apa yang memungkinkan untuk saya ambil. Orang lain boleh tahu keresahan saya setelah saya berhasil keluar dari keresahan tersebut.
Mei 2015, kadwil cukup membantu saya. Saya membuka mata terhadap jurusan-jurusan lain. Bertanya lebih banyak, mendapat jawaban lebih banyak. Saya tetap belum bisa condong ke salah satu diantara lima. Maka saya melakukan sistem eliminasi. Saya urutkan jurusan-jurusan FTSL sesuai dengan minat dan kemampuan saya hingga menyisakan satu jurusan di urutan pertama: Teknik Sipil. Maka malam itu, saya mengambil keputusan untuk yang kedua kalinya. (Jika ada yang pernah mendengar saya mengemukakan alasan-alasan yang berbau idealisme, mereka muncul setelah saya mengambil keputusan. Beberapa kalimat itu bukan menjadi alasan mengapa saya memilih, tapi ide-ide yang muncul setelah saya memilih.)
Berbulan-bulan telah berlalu sejak keputusan pertama jatuh. Hari ini saya ingin mencari, sebelah mana dari langkah yang telah saya ambil yang kira-kira keliru? Bagian mana yang salah sehingga beberapa hari belakangan ini saya selalu bertanya-tanya, “Kenapa saya ambil Teknik Sipil?”? Kenapa semakin saya mendalami ilmu ini justru keilmuan lain yang terlihat lebih menarik? Apa saya salah jurusan? Tapi saya sendiri tidak tahu mau jurusan apa kalau bukan yang saya jalani sekarang ini. No idea. So, in conclusion, I’ll just let times flow. ‘Cause, once I step forward, there is no way back, isn’t it?
Kalau saya tidak bisa menemukan tempat lain untuk saya pilih, maka saya akan temukan alasan-alasan yang akan menahan saya tetap tinggal. Di saat seperti ini, daripada teman yang mencarikan tempat lain untuk saya pilih, saya lebih membutuhkan teman yang menahan saya agar tetap tinggal. Sebab seperti yang kita tahu, pindah, apapun bentuknya, bukan perkara mudah dan resikonya kadang tak sebanding dengan manfaatnya.
Waktu itu berjalan dengan kecepatan yang sama saja. Berpindah 1/60 busur lingkaran setiap detiknya. Hanya saja ia tak pernah berjalan mundur sehingga jalannya waktu bergantung kepada seseorang memandangnya: sebagai masa lalu atau sebagai masa depan.
Rasanya baru beberapa hari yang lalu, saat aku berada di dalam GSG mengiringi wisuda angkatan 15 Insan Cendekia. Menyaksikan serangkaian prosesi wisuda untuk pertama kalinya. Lalu aku berandai tentang bagaimana aku ketika saatku tiba. Aku merasa waktu berjalan sangat lama. Aku ingin cepat sampai pada hari itu. Hari dimana aku bisa keluar dari kampus tanpa kartu izin, hari dimana aku dengan bangga bisa berkata bahwa aku adalah bagian dari IAIC.
Kemudian...
Setelah waktu yang terasa hanya beberapa hari berselang dari itu, giliranku tiba. Aku yang berada di dalam GSG, duduk di bangku wisudawan, mengenakan pakaian cantik yang sama dengan teman-temanku yang lain, menyenandungkan asmaul husna sebagai pengesahan pencabutan statusku sebagai seorang siswi. Aku merasa waktu berjalan begitu cepat sebab sesuatu yang seharusnya masih ada malah tertinggal di belakang sebagai masa lalu. Waktu tidak berkenan untuk memperlambat jalannya agar sesuatu yang tertinggal dapat menyusul.
Dan hari ini...
Mengarak para wisudawan HMS membuat aku merasa waktu berjalan terlalu cepat dan terlalu lambat pada saat yang bersamaan. Terlalu cepat sebab aku teringat momen wisudaku dari Insan Cendekia dan merasa bernostalgia. Terlalu lambat sebab rasanya aku masih akan sangat lama untuk sampai pada giliranku.
Terbukti bahwa jalannya waktu sungguh relatif, tergantung bagaimana seseorang memandangnya.
Rasanya baru beberapa hari yang lalu, saat aku berada di dalam GSG mengiringi wisuda angkatan 15 Insan Cendekia. Menyaksikan serangkaian prosesi wisuda untuk pertama kalinya. Lalu aku berandai tentang bagaimana aku ketika saatku tiba. Aku merasa waktu berjalan sangat lama. Aku ingin cepat sampai pada hari itu. Hari dimana aku bisa keluar dari kampus tanpa kartu izin, hari dimana aku dengan bangga bisa berkata bahwa aku adalah bagian dari IAIC.
Kemudian...
Setelah waktu yang terasa hanya beberapa hari berselang dari itu, giliranku tiba. Aku yang berada di dalam GSG, duduk di bangku wisudawan, mengenakan pakaian cantik yang sama dengan teman-temanku yang lain, menyenandungkan asmaul husna sebagai pengesahan pencabutan statusku sebagai seorang siswi. Aku merasa waktu berjalan begitu cepat sebab sesuatu yang seharusnya masih ada malah tertinggal di belakang sebagai masa lalu. Waktu tidak berkenan untuk memperlambat jalannya agar sesuatu yang tertinggal dapat menyusul.
Dan hari ini...
Mengarak para wisudawan HMS membuat aku merasa waktu berjalan terlalu cepat dan terlalu lambat pada saat yang bersamaan. Terlalu cepat sebab aku teringat momen wisudaku dari Insan Cendekia dan merasa bernostalgia. Terlalu lambat sebab rasanya aku masih akan sangat lama untuk sampai pada giliranku.
Terbukti bahwa jalannya waktu sungguh relatif, tergantung bagaimana seseorang memandangnya.
Kau boleh mengenang masa lalu, mempersiapkan masa depan, tapi hiduplah untuk hari ini.
Jika bahkan tak pernah terpikir, lantas mengapa alam bawah sadar bisa membaca?
Jika urusan lain telah menyibukkan, lantas mengapa harus sempat bertemu dalam mimpi?
Jika hidup yang sekarang sudah biasa saja, lantas mengapa masih saja mengintip kehidupan satu sama lain?
Apa memang tak ada ujumgnya?
Atau hanya aku yang tak bisa menegaskan mana yang kupijak?
Lalu, aku harus berdiri dimana?
Meski yang kau hitung adalah yang telah kau lalui di belakang, sesungguhnya apa yang akan kau hadapi adalah yang ada di depan sana. Lalu disaat kau sibuk menambah hitunganmu, mereka sedang menata diri untuk menghadapi tantangan masa depan.
Jadi ceritanya adalah mau team bonding bareng temen-temen AMI 2016. Lalu tulis daftar hadir di grup line seperti biasa. Bau-baunya sih wacana, soalnya pada respon nggak bisa gitu. Sebelumnya, rencana ngecamp di Cisanti atau Cileunca (jadi inget sospol :"), tapi pada gabisa. Ada yang osjur, ada yang ngosjur, ada yang punya kepentingan lain. Akhirnya rencana berubah. Jadinya kumpul di kubus jam 7 pagi.
Tapi apa daya, namanya si mahasiswa ITB ini semua terlalu mager untuk bangun pagi, jadilah jam setengah 8 pagi kita baru berlima. Ada aku, Julia, Kak Cete, Kak Faza, dan Kak Syauqi. Orang-orang yang tadinya mau ikut, mungkin melihat partisipasi yang kurang jadi agak enggan. Akhirnya kita susun rencana mau kemana, akomodasi gimana, pokoknya nggak mau tau hari ini HARUS JADI. Nggak boleh enggak, nggak boleh berakhir wacana.
Kita mikir nih gimana caranya kita bisa pergi sedangkan kita berlima dan motor cuma ada dua. Terus, Julia sama Kak Faza akhirnya jemput Kak Fachri dengan harapan akan mendapat tambahan motor. Alhamdulillah, Kak Fachri datang bersama satu unit sepeda motor. Setelah motor cukup, lalu ada lagi yang kurang: helm. Helmnya kurang dua ternyata. Kepikiran minjem di parkir SR atau Sipil, tapi ternyata apa daya helmnya sudah lenyap dipinjem yang lain.
Belum selesai masalah helm, muncul lah Kak Pras di kubus dan personel kami bertambah satu. Masalah pun bertambah satu: motornya kurang lagi. Kekurangan motor dan helm ini kemudian terselesaikan berkat Kak Faza yang mencari bantuan ke sekre HMM, dan Kak Syauqi yang mencari bantuan ke kosannya sendiri.
Akhirnya, jam setengah 10 kami bisa berangkat ke tempat tujuan.
Inilah beberapa dokumentasi hasil jalan-jalan hari ini.
Wacana? Kata siapa?
![]() |
| Itu mukanya Kak Faza kenapa? :o |
![]() |
| Kalau megang kamera emang kerjanya moto doang :( |
![]() |
| Ini di checkpoint pertama :) |
![]() |
| Foto ala-ala yang cowoknyaa |
![]() |
| Yang cewek ga mau kalah ala-ala |
![]() |
| Selfie by Kak Fachri |
![]() |
| Mau keren ceritanya |
![]() |
| Selfie by Julia |







