Habis buka draft-draft tulisan jaman dulu yang nggak selesai. Lucu juga bacanya, kayaknya dulu aku masih polos banget (eh?), jadi ide ceritanya belum begitu berasa. Yang paling mengundang tawa adalah draft-sembilan-puluh-enam-halaman yang harusnya jadi novel dengan tokoh Rana-Dava-Rizky. Ada lagi draft-tiga-puluh-dua halaman dengan tokoh Zein-Ira (semua halaman dinyatakan dalam ukuran kertas A4). Habis gimana, mau dilanjutin juga aku udah lupa ceritanya. Lagian sedikit udah nggak relevan sama gaya hidupku yang sekarang.
Tapi, ada satu draft yang menarik perhatianku. Aku inget draft ini kutulis lebih kurang setahun yang lalu. Sebuah prolog cerita yang kutulis dengan bahasa inggris belepotan. Judul aslinya four seasons. Aku lupa sebenernya ceritanya kayak apa. Tokoh aslinya Mario-Jennifer, dan masalah yang terjadi diantara mereka adalah jarak dan rasa percaya. Terus seingetku, cerita ini kubikin sad ending dengan salah satu tokohnya berubah jadi nggak sama lagi.
Karena merasa inti cerita ini lumayan menarik, aku merombak ulang ceritanya dan membuatnya jadi berbeda. Yang tadinya berbahasa inggris, kujadikan bahasa Indonesia. Nah, baca aja deh daripada kuceritain panjang lebar. Maaf kalau ada kesamaan nama tokoh, karakter, atau tempat. Semata karena ketidaksengajaan.
Tapi, ada satu draft yang menarik perhatianku. Aku inget draft ini kutulis lebih kurang setahun yang lalu. Sebuah prolog cerita yang kutulis dengan bahasa inggris belepotan. Judul aslinya four seasons. Aku lupa sebenernya ceritanya kayak apa. Tokoh aslinya Mario-Jennifer, dan masalah yang terjadi diantara mereka adalah jarak dan rasa percaya. Terus seingetku, cerita ini kubikin sad ending dengan salah satu tokohnya berubah jadi nggak sama lagi.
Karena merasa inti cerita ini lumayan menarik, aku merombak ulang ceritanya dan membuatnya jadi berbeda. Yang tadinya berbahasa inggris, kujadikan bahasa Indonesia. Nah, baca aja deh daripada kuceritain panjang lebar. Maaf kalau ada kesamaan nama tokoh, karakter, atau tempat. Semata karena ketidaksengajaan.
Rheina menatap pusara keluarganya
dengan wajah sendu. Tak ada yang bisa ia lakukan selain mengalirkan airmata
dalam diam. Ya, hanya dalam diam. Bukan pecahan tangis yang memekakkan telinga,
atau bahkan raungan tak teredam tanda kehilangan.
Rheina gamang. Ia tak tahu apa
tepatnya yang harusnya ia rasakan. Kadang, rasa sesal menyeruak dalam benaknya.
Andai ia tak pernah memutuskan sekolah berasrama, pasti di malam naas itu ia
sedang bersama keluarganya, berada di dalam mobil maut itu. Pasti.
Tapi terlepas dari itu, Rheina
sadar ia bukan anak kecil yang bisa terus-menerus larut dalam kesedihan. Ia
sudah dewasa. Dan sepinya hidup bukan alasan untuk menenggelamkan
kedewasaannya. Meski ia tahu benar, inilah makna kesepian yang sebenarnya.
