Sebenarnya ada hal lain yang ingin aku tulis malam ini. Namun, tampaknya masalah ini lebih bisa dibagi dan lagi sebelum aku nantinya melupakan perbincangan sore yang bermanfaat ini, sebaiknya memang kuungkap dalam deretan kata yang suatu hari dapat kubuka lagi.
Dua tahun lebih aku hidup di balik pagar asrama. Tentram dan damai dari dunia luar yang rasanya semakin tidak karuan bentuknya. Sebagai anak terkurung, tentunya aku tidak tahu seperti apa dunia luar berjalan. Aku tidak benar-benar memahami bagaimana dunia putih-abu yang (padahal) saat ini sedang kujalani. Dunia putih-abu tempat teman-temanku berada. Dan, obrolan sore ini memberikanku jawabannya...
Dua tahun lebih aku hidup di balik pagar asrama. Tentram dan damai dari dunia luar yang rasanya semakin tidak karuan bentuknya. Sebagai anak terkurung, tentunya aku tidak tahu seperti apa dunia luar berjalan. Aku tidak benar-benar memahami bagaimana dunia putih-abu yang (padahal) saat ini sedang kujalani. Dunia putih-abu tempat teman-temanku berada. Dan, obrolan sore ini memberikanku jawabannya...
Sebenarnya tulisan ini sudah lama menjadi rough draft. Entah kenapa, seperti ada sesuatu yang membuat aku jadi ingin mengeposnya sekarang, padahal harusnya nanti pasca pembukaan GAKIC berikutnya. Tapi, sudahlah simak saja tulisan ini, mumpung masih gratis.
GAKIC. Gelar tanding atarkelas Insan Cendekia. Berlangsung selama berbulan-bulan sampai kadang bosen sendiri. Semacam kelas meeting, hanya saja dengan cabang lomba yang lebih banyak dan rentang waktu yang lebih panjang. GAKIC terdiri dari 12 cabang lomba berformat pertandingan dan 9 cabang atletik. Di entri ini, aku akan mengulas kesemua cabang lomba dari sudut pandang Becak Adem sebagai jawara GAKIC 2012-2013.
Hey, look!
They are the another twenty-two people special, my new classmates on DKM Bersinar (XII NS 2). We'll be together for a year, pass so many things precious and unforgettable.
Dari kiri ke kanan (bawah):
Wisnu - Santo - Dino - Dimas - Ola - Yumna - Fajril - Lidya
Dari kiri ke kanan (atas):
Alim - Udin - Mahmud - Irham - Labib - Miftah - Muza - Luqman - Ana - Nila - Riza - Taqi - Shofi
Tak terlihat (?):
Lotus
The story of us will be posted soon, ya :D
SCRABBLE.
Sebuah nama yang secara asal diceletuki oleh aku dan Caca ketika kami akan mengikuti Betrayal, kontes musik Insan Cendekia Serpong 2013. Setelah beberapa lagu diaransemen, kami akhirnya memiliki nama berkat Caca yang mengajak beberapa diantara kami untuk ikut Betrayal mengiringinya bernyanyi. Safe and Sound. Awalnya aku bukan bagian dari SCRABBLE. Tim ini hanya terdiri dari Caca, Lotus, Nui, Tsani, dan Nuha. Hanya mereka berlima. Namun, karena di hari audisi Betrayal Caca berhalangan, aku masuk menggantikan. Pada dasarnya kami berlima memang satu tim dalam kelas seni musik, ditambah Azizah, Ledi, dan Taqiyya, serta featuring Gozal.
Singkat tentang kelas seni di Insan Cendekia, kami terbagi dalam lima kelas yaitu lukis, suara, desain grafis, fotografi, dan musik. Kelas seni musik angkatanku terbagi ke dalam beberapa kelompok kecil, diantaranya grup akustik, perkusi, dan ansambel gitar, terkadang kami semua juga bergabung dalam satu orkestra bernama Vertical Horizon.
Dalam perjalanan, nama SCRABBLE terus digunakan untuk menyebut nama grup musik kami. Sudah tak terhitung banyaknya pentas yang telah kami naiki dan lagu yang sudah kami mainkan. Awalnya warna musik kami sangat sederhana. Namun, semakin kesini semuanya terasa semakin berwarna. Terkadang ditambah iringan Drumnya Diva Pasha.
Sekarang kami semua sudah di tahun terakhir. Mungkin tahun ini atau tahun depanlah pentas terakhir kami akan berlangsung. Pentas terakhir kami bersama-sama, lengkap, dengan musik yang penuh dengan warna-warni.
Sebuah nama yang secara asal diceletuki oleh aku dan Caca ketika kami akan mengikuti Betrayal, kontes musik Insan Cendekia Serpong 2013. Setelah beberapa lagu diaransemen, kami akhirnya memiliki nama berkat Caca yang mengajak beberapa diantara kami untuk ikut Betrayal mengiringinya bernyanyi. Safe and Sound. Awalnya aku bukan bagian dari SCRABBLE. Tim ini hanya terdiri dari Caca, Lotus, Nui, Tsani, dan Nuha. Hanya mereka berlima. Namun, karena di hari audisi Betrayal Caca berhalangan, aku masuk menggantikan. Pada dasarnya kami berlima memang satu tim dalam kelas seni musik, ditambah Azizah, Ledi, dan Taqiyya, serta featuring Gozal.
Singkat tentang kelas seni di Insan Cendekia, kami terbagi dalam lima kelas yaitu lukis, suara, desain grafis, fotografi, dan musik. Kelas seni musik angkatanku terbagi ke dalam beberapa kelompok kecil, diantaranya grup akustik, perkusi, dan ansambel gitar, terkadang kami semua juga bergabung dalam satu orkestra bernama Vertical Horizon.
Dalam perjalanan, nama SCRABBLE terus digunakan untuk menyebut nama grup musik kami. Sudah tak terhitung banyaknya pentas yang telah kami naiki dan lagu yang sudah kami mainkan. Awalnya warna musik kami sangat sederhana. Namun, semakin kesini semuanya terasa semakin berwarna. Terkadang ditambah iringan Drumnya Diva Pasha.
Sekarang kami semua sudah di tahun terakhir. Mungkin tahun ini atau tahun depanlah pentas terakhir kami akan berlangsung. Pentas terakhir kami bersama-sama, lengkap, dengan musik yang penuh dengan warna-warni.
Tag: Azizah Nuraini Hasna (Pianist), Andriana Kumalasari (Vocalist), Nuha Malihati (Guitarist), Tsamara Tsani (Guitarist), Taqiyya Maryam (Guitarist), Nabila Lotus Amala (Guitarist), Laksmita Aulia Dewi (Guitarist), Nurina Izazi (Guitarist/Bassist), M Fahmi Gozal (Violin), M Diva Pasha (Drummer)
Kembali pulang, jika memang tempat ini disebut rumah. Tapi bahkan sampai aku kembali kesini dan tak lagi dapat bertemu dengannya semudah sebelumnya, kata itu tetap saja tak keluar. Entahlah, aku juga bingung. Padahal apa susahnya minta maaf? Seharusnya itu bisa kulalukan dengan mudah seperti yang kulakukan pada teman-temanku yang lain. Ya, seharusnya aku bisa dengan mudah memanggilnya seperti aku memanggil yang lain. Meski nyatanya tidak. Apa yang terjadi diantara kami ini... yah, mungkin saja masing-masing dari kami sedang berusaha mengusir hening, atau mungkin mengeyahkan perasaan aneh yang tak terjelaskan oleh kami sendiri. Mungkin. Aku sendiri tak tahu pasti. Bagaimana dengannya?
Kami tak pernah berbincang layaknya 'teman normal', atau memang aku dan dia tidak senormal itu? Tak ada kata-kata ringan terlontar, perdebatan panjang tanpa beban, atau kalimat panjang berarti yang mempersempit jarak diantara kami. Mungkinkah aku dan dia memang tidak ditakdirkan memiliki jalan pikiran yang sama? Atau malah rasa canggung 'itu' yang membuat semuanya terasa semakin tak wajar? Lalu apa arti pikiran ini yang sejak kemarin menyesali kata maaf yang tak sempat kuucap? Benarkah ini hanya perasaan tak enak biasa seorang teman? Atau lebih dari itu, ini perasaan takut kehilangan seorang 'teman'?
Yang bisa kulakukan saat ini hanya bertanya, karena aku pun tak tahu pasti jawabannya
Kami tak pernah berbincang layaknya 'teman normal', atau memang aku dan dia tidak senormal itu? Tak ada kata-kata ringan terlontar, perdebatan panjang tanpa beban, atau kalimat panjang berarti yang mempersempit jarak diantara kami. Mungkinkah aku dan dia memang tidak ditakdirkan memiliki jalan pikiran yang sama? Atau malah rasa canggung 'itu' yang membuat semuanya terasa semakin tak wajar? Lalu apa arti pikiran ini yang sejak kemarin menyesali kata maaf yang tak sempat kuucap? Benarkah ini hanya perasaan tak enak biasa seorang teman? Atau lebih dari itu, ini perasaan takut kehilangan seorang 'teman'?
Yang bisa kulakukan saat ini hanya bertanya, karena aku pun tak tahu pasti jawabannya
Dengan orang lain, aku akan mudah membuka perbincangan, tapi tidak dengannya. Dengan orang lain, aku akan ringan menatap mata, tapi tidak dengannya. Dengan orang lain, meminta maaf bukanlah hal sulit, tapi dengannya? Bahkan sampai hari ini aku masih belum memiliki keberanian. Padahal, rasanya sangat ingin meski aku sama sekali tidak tau apa kesalahanku padanya.
Menghitung menit. Sebentar lagi aku akan kembali ke Insan Cendekia, tempat yang menjadi rumahku selama dua tahun terakhir dan setahun ke depan. Akan banyak hal baru yang terjadi disana pasti. Mungkin akan ada tawa yang terdengar lagi, atau bisa juga akan ada airmata yang terurai lagi (agak ekstremis ya?). Tapi, inilah nyatanya. Inilah saatku memasuki fase baru, ditanya dan tak lagi bertanya, mengayomi dan tak lagi diayomi, dicontoh dan tak lagi menyontoh, dipimpin dan tak lagi memimpin, memperhatikan dan tak lagi diperhatikan. Lucu ya? Mengingat bagaimana dulu aku melewati masaku dengan tenang dan seakan tanpa beban. Mengingat bagaimana dulu aku beradaptasi dengan sulitnya tanpa orang yang sama. Mengingat bagaimana dulu aku memandang dunia kelas dua dengan begitu bersemangat. Tapi sekarang, aku tidak terlalu tertarik dengan label 'anak kelas tiga'. Karena kelas tiga berarti nggak boleh main-main, kelas tiga berarti meningkatkan kewaspadaan, dan kelas tiga berarti semakin mendekati perpisahan. Hmm, aku belum siap jika harus ada perpisahan lagi.


