Saat kita tidak tahu pasti sesuatu akan menjadi benar atau salah, lebih baik kita menghindarinya. Karena bagaimanapun, menjauhi yang syubhat itu memang tindakan pencegahan yang bijak.
Untuk siapa kamu berjuang? Apakah kamu memperjuangkan sesuatu karena kamu benar-benar menginginkan itu atau hanya demi orang lain? Alasan yang berbeda akan meninggalkan bekas yang berbeda, baik saat kau berhasil atasnya, maupun saat kau mengalami kegagalan.
Sejak dulu kusadari, kau memang berarti
Waktu telah kita arungi, dan rindu menyergap lagi
Kawan, masihkah sempat...
...terurai sajak yang kubuat?
Disampingmu kurasa hari bahagia
Tak pernah berakhir dengan hati tergulir
Bersamamu kutahu makna menyatu
Meski angin terhempas, kita tak terlepas
Jika suatu hari kita tak sama lagi
Akankah kenangan bertahan?
Karena tak ada yang sepadan
Sebuah lagu yang terlahir untuk XI IPA 1 2012 - 2013 Becak Adem yang begitu luar biasa. Entah sudah berapa bulan, kawan. Tapi kerinduan itu masih sama. Atmosfir tak biasa itu masih lekat. Bahkan saat malam ini aku kembali memetik gitar untuk melantunkan melodi yang kuciptakan untuk kalian itu, sesak yang tak wajar masih mengganggu. Aku tahu ini namanya rindu, aku tahu tak hanya aku yang rindu.
Besok, opening ceremony GAKIC 2013 - 2014 akan digelar. Aku ingat setahun yang lalu acara inilah yang melekatkan kita. Aku tahu kalian juga ingat. Ingat memori GAKIC kita yang luar biasa itu.
Waktu telah kita arungi, dan rindu menyergap lagi
Kawan, masihkah sempat...
...terurai sajak yang kubuat?
Disampingmu kurasa hari bahagia
Tak pernah berakhir dengan hati tergulir
Bersamamu kutahu makna menyatu
Meski angin terhempas, kita tak terlepas
Jika suatu hari kita tak sama lagi
Akankah kenangan bertahan?
Karena tak ada yang sepadan
Sebuah lagu yang terlahir untuk XI IPA 1 2012 - 2013 Becak Adem yang begitu luar biasa. Entah sudah berapa bulan, kawan. Tapi kerinduan itu masih sama. Atmosfir tak biasa itu masih lekat. Bahkan saat malam ini aku kembali memetik gitar untuk melantunkan melodi yang kuciptakan untuk kalian itu, sesak yang tak wajar masih mengganggu. Aku tahu ini namanya rindu, aku tahu tak hanya aku yang rindu.
Besok, opening ceremony GAKIC 2013 - 2014 akan digelar. Aku ingat setahun yang lalu acara inilah yang melekatkan kita. Aku tahu kalian juga ingat. Ingat memori GAKIC kita yang luar biasa itu.
Santo yang nggak pernah main GAKIC dan jarang dateng walaupun cuma buat dukung. Anak-anak cewek yang teriak-teriak GO FIGHT BECAK ADEM! sambil bawa-bawa bendera sama tulisan ritsumeikan. Kori yang juga nggak pernah main GAKIC, persis banget sama Santo. Badminton dan tenis meja kita yang hampir selalu (atau emang?) main tiga set dengan Sidiq sebagai penyelamat. Futsal dan softball kita yang dramatis lawan Cappucino. Catur yang sampe lima set lawan Cavernous. Basket cewek yang dramatis lawan Sevorex. Basket cowok yang kejar-kejaran sama hafalan Fiqih mawarits. Perform opening GAKIC kita yang mati lampu. Closing yang tanpa Sidiq dan Yaya walaupun kita juara umum gara-gara mereka ngurus baazar.Luar biasa, kawan. Entah berapa kali aku akan mengatakan bahwa kalian luar biasa. Entah berapa kali sampai itu cukup membuatku menekan memori yang terus mencuat. Aku tak tahu, karena semakin aku mencoba mengabaikan memori kebersamaan kita, maka memori itu malah semakin kuat, dan seakan mengejek kalau kalian memang memiliki tempat yang permanen, tak akan ada yang sepadan.
Teman, tanpa perlu kita perhatikan, waktu terus mengalir. Memang, manusia manapun tak akan ada yang sanggup menahan lajunya waktu, termasuk hal-hal yang terjadi seiringnya mengalir.
Aku ingat saat beberapa tahun lalu pertama kali aku melihat senyummu. Begitu akrab, dan bahkan bagiku terlihat terlalu (sok) akrab untuk ukuran orang yang tak pernah bertemu sebelumnya. Ditambah lagi, sepertinya banyak sekali hal lain yang kupikirkan saat itu, seperti bagaimana aku bisa melepaskan diri dari tempat aneh ini. Saat itu, kau berbicara tanpa henti. Menceritakan banyak hal yang membuatku mau tidak mau tertawa, habis kalau aku tidak tertawa mungkin kau akan kecewa karena sudah berusaha keras.
Lalu aku juga ingat saat pengumuman di papan hijau mengatakan bahwa aku dan kamu akan sekelas selama satu tahun. Tahun pertama yang tak pernah kulupakan. Berkesan.
Aku tak pernah lupa, dan bahkan jikapun bisa aku tak mau melupakan, saat aku memelukmu dan mengatakan banyak hal, saat aku rapuh dan bersandar di bahumu berusaha menumpahkan air mata yang jarang sekali keluar, saat kita berjuang bersama-sama di balkon asrama sampai dini hari karena esok harinya adalah ujian biologi, saat kita di depan layar berkoneksi internet menertawakan lelucon-lelucon kita sendiri, atau saat kita meributkan hal-hal yang sepele dan kita tak mau melepaskan opini masing-masing.
Setahun itu berkesan sekali, teman. Dan masih berkesan walau setelahnya kita tak pernah lagi sekelas. Aku masih ingat saat kau memelukku di siang hari pertengahan Juni itu dan untuk pertama kalinya aku melihatmu menangis. Untuk pertama kalinya blus yang kukenakan basah karena air matamu, untuk pertama kalinya aku melihat wajahmu yang terluka, wajahmu yang nyaris putus asa namun tetap berusaha tersenyum optimis. Aku tahu kau seorang yang kuat, aku tahu meski berulang kali aku mengelaknya dihadapanmu. Saat itu, hanya karena melihat wajahmu basah oleh air mata, aku hampir-hampir juga menangis kalau saja aku tak ingat, bahwa disaat kamu mengangis, seharusnya aku tegar dan menghapus air matamu seperti yang kamu lakukan. Menggenggam tanganmu dan membangunkanmu. Maka hari itu, demi kamu aku sadar aku harus tersenyum.
Setelah itu kita tak bicara sesering dulu, namun tetap, kaulah orang pertama yang kucari saat aku benar-benar butuh menangis. Kau mengerti banyak hal yang tak dimengerti orang lain.
Ingatkah saat beberapa minggu yang lalu aku akhirnya kembali menangis setelah sekian lama. Aku sulit menangis, tapi dihadapan orang-orang tertentu air mataku takkan mudah dihentikan. Tahukah saat itu sebenarnya aku sudah ingin menangis sejak berhari-hari sebelumnya namun tak bisa? Kompleks masalah yang kuhadapi saat itu benar-benar membuatku berfikir bahwa menangis sungguh akan melegakan, tapi meski kucoba aku tak bisa. Namun, hanya karena memandang matamu dan bersandar di bahumu, semuanya mengalir dengan begitu ringannya. Kau membuat tubuhku terasa lebih ringan dan masalahku terasa begitu kecil.
Aku tidak tahu ikatan seperti apa yang dibubuhkan takdir Allah diantara kita, tapi ikatan ini bagiku begitu manis. Teman, jika suatu saat kita tak sama lagi, kupastikan kau tetap kuingat meski mungkin kau tak lagi mengingatku. Aku tak pandai memilih kata-kata untuk mengungkapkan perasaanku, karena mungkin yang tepat adalah perasaan itu akan membawaku ke barisan kata-kata yang menjelaskan semuanya.
Aku ingat saat beberapa tahun lalu pertama kali aku melihat senyummu. Begitu akrab, dan bahkan bagiku terlihat terlalu (sok) akrab untuk ukuran orang yang tak pernah bertemu sebelumnya. Ditambah lagi, sepertinya banyak sekali hal lain yang kupikirkan saat itu, seperti bagaimana aku bisa melepaskan diri dari tempat aneh ini. Saat itu, kau berbicara tanpa henti. Menceritakan banyak hal yang membuatku mau tidak mau tertawa, habis kalau aku tidak tertawa mungkin kau akan kecewa karena sudah berusaha keras.
Lalu aku juga ingat saat pengumuman di papan hijau mengatakan bahwa aku dan kamu akan sekelas selama satu tahun. Tahun pertama yang tak pernah kulupakan. Berkesan.
Aku tak pernah lupa, dan bahkan jikapun bisa aku tak mau melupakan, saat aku memelukmu dan mengatakan banyak hal, saat aku rapuh dan bersandar di bahumu berusaha menumpahkan air mata yang jarang sekali keluar, saat kita berjuang bersama-sama di balkon asrama sampai dini hari karena esok harinya adalah ujian biologi, saat kita di depan layar berkoneksi internet menertawakan lelucon-lelucon kita sendiri, atau saat kita meributkan hal-hal yang sepele dan kita tak mau melepaskan opini masing-masing.
Setahun itu berkesan sekali, teman. Dan masih berkesan walau setelahnya kita tak pernah lagi sekelas. Aku masih ingat saat kau memelukku di siang hari pertengahan Juni itu dan untuk pertama kalinya aku melihatmu menangis. Untuk pertama kalinya blus yang kukenakan basah karena air matamu, untuk pertama kalinya aku melihat wajahmu yang terluka, wajahmu yang nyaris putus asa namun tetap berusaha tersenyum optimis. Aku tahu kau seorang yang kuat, aku tahu meski berulang kali aku mengelaknya dihadapanmu. Saat itu, hanya karena melihat wajahmu basah oleh air mata, aku hampir-hampir juga menangis kalau saja aku tak ingat, bahwa disaat kamu mengangis, seharusnya aku tegar dan menghapus air matamu seperti yang kamu lakukan. Menggenggam tanganmu dan membangunkanmu. Maka hari itu, demi kamu aku sadar aku harus tersenyum.
Setelah itu kita tak bicara sesering dulu, namun tetap, kaulah orang pertama yang kucari saat aku benar-benar butuh menangis. Kau mengerti banyak hal yang tak dimengerti orang lain.
Ingatkah saat beberapa minggu yang lalu aku akhirnya kembali menangis setelah sekian lama. Aku sulit menangis, tapi dihadapan orang-orang tertentu air mataku takkan mudah dihentikan. Tahukah saat itu sebenarnya aku sudah ingin menangis sejak berhari-hari sebelumnya namun tak bisa? Kompleks masalah yang kuhadapi saat itu benar-benar membuatku berfikir bahwa menangis sungguh akan melegakan, tapi meski kucoba aku tak bisa. Namun, hanya karena memandang matamu dan bersandar di bahumu, semuanya mengalir dengan begitu ringannya. Kau membuat tubuhku terasa lebih ringan dan masalahku terasa begitu kecil.
Aku tidak tahu ikatan seperti apa yang dibubuhkan takdir Allah diantara kita, tapi ikatan ini bagiku begitu manis. Teman, jika suatu saat kita tak sama lagi, kupastikan kau tetap kuingat meski mungkin kau tak lagi mengingatku. Aku tak pandai memilih kata-kata untuk mengungkapkan perasaanku, karena mungkin yang tepat adalah perasaan itu akan membawaku ke barisan kata-kata yang menjelaskan semuanya.
Bahwa aku sangat menyayangimu, Azizah Muthiah. Karena kamu adalah kamu, bukan orang lain. Kamu yang tegar, kamu yang kuat, kamu yang bagiku selalu luar biasa. Betapa banyak dari takdirku tersampaikan melaluimu, dan yang terbesar adalah OSK Astronomi. Kalau seandainya saat itu yang menyuruhku ikut tes bukan kamu, mungkin aku nggak akan pernah ikut. Kamu adalah bagian hidupku yang nggak boleh hilang dan nggak ingin kuhilangkan. Tanpa kamu, aku nggak akan pernah sama.

I don't know how it happened or when it happened. But, you remembered it exactly, even normally people would forget it. You mentioned it clearly just as if it happened several minutes ago. You told me and I couldn't hold myself not to smile anymore. That time, I was just choosing a simple way to express my feeling, I really surprised.
Yeah, I knew, even I didn't know when it started, that I really cared for what you did or what happened to you. But, if you could remember some details like when was our first meeting, where was it, and who was there with you on that time, perhaps I was not just an ordinary person in your life. I could be someone you hated, or someone you cared.
Then, because you were not looked like someone hated me, so perhaps (again), you cared.
Habis buka draft-draft tulisan jaman dulu yang nggak selesai. Lucu juga bacanya, kayaknya dulu aku masih polos banget (eh?), jadi ide ceritanya belum begitu berasa. Yang paling mengundang tawa adalah draft-sembilan-puluh-enam-halaman yang harusnya jadi novel dengan tokoh Rana-Dava-Rizky. Ada lagi draft-tiga-puluh-dua halaman dengan tokoh Zein-Ira (semua halaman dinyatakan dalam ukuran kertas A4). Habis gimana, mau dilanjutin juga aku udah lupa ceritanya. Lagian sedikit udah nggak relevan sama gaya hidupku yang sekarang.
Tapi, ada satu draft yang menarik perhatianku. Aku inget draft ini kutulis lebih kurang setahun yang lalu. Sebuah prolog cerita yang kutulis dengan bahasa inggris belepotan. Judul aslinya four seasons. Aku lupa sebenernya ceritanya kayak apa. Tokoh aslinya Mario-Jennifer, dan masalah yang terjadi diantara mereka adalah jarak dan rasa percaya. Terus seingetku, cerita ini kubikin sad ending dengan salah satu tokohnya berubah jadi nggak sama lagi.
Karena merasa inti cerita ini lumayan menarik, aku merombak ulang ceritanya dan membuatnya jadi berbeda. Yang tadinya berbahasa inggris, kujadikan bahasa Indonesia. Nah, baca aja deh daripada kuceritain panjang lebar. Maaf kalau ada kesamaan nama tokoh, karakter, atau tempat. Semata karena ketidaksengajaan.
Tapi, ada satu draft yang menarik perhatianku. Aku inget draft ini kutulis lebih kurang setahun yang lalu. Sebuah prolog cerita yang kutulis dengan bahasa inggris belepotan. Judul aslinya four seasons. Aku lupa sebenernya ceritanya kayak apa. Tokoh aslinya Mario-Jennifer, dan masalah yang terjadi diantara mereka adalah jarak dan rasa percaya. Terus seingetku, cerita ini kubikin sad ending dengan salah satu tokohnya berubah jadi nggak sama lagi.
Karena merasa inti cerita ini lumayan menarik, aku merombak ulang ceritanya dan membuatnya jadi berbeda. Yang tadinya berbahasa inggris, kujadikan bahasa Indonesia. Nah, baca aja deh daripada kuceritain panjang lebar. Maaf kalau ada kesamaan nama tokoh, karakter, atau tempat. Semata karena ketidaksengajaan.
Kurang lebih dua puluh satu jam resminya aku berusia 17. Ternyata benar kata salah seorang temanku bahwa tujuh belas tahun itu rasanya biasa saja. Tak ada yang berbeda.
Hari ini, aku benar-benar merasa hidup. Karena bagiku, hidup adalah ketika kita melangkah bersama dengan orang lain, ketika kita diakui keberadaannya. Dan ketika, aku bisa tersenyum bersama orang-orang disekitarku.
Ulang tahun kali ini nggak kunilai dari berapa banyak hadiah, atau berapa banyak ucapan Happy Birthday yang kuterima. Tapi ulang tahun kali ini terasa kuhayati dengan berapa banyak aku bisa berbagi, berapa banyak doa yang bisa kuberi, dan berapa pelukan yang kuterima dengan bisikan "Na, happy 17th ya, aku sayang kamu!"
Betapa disayangi adalah sebuah kado yang bagiku tak ternilai. Disayangi teman-teman, keluarga di rumah kedua adalah satu hal yang selalu kuinginkan. Bukan. Bukan nilai kadonya yang membuatku terharu hari ini. Tapi, nilai kasih sayangnya, nilai perhatiannya.
Aku juga sayang kalian. Aku sayang Magnivic Alencearin, terutama yang akhwat, dan aku sayang Insan Cendekia.
Nilna. Dimas. Diva. Fathur. Luthfi. Kori. Caca. Muthi. Tyas. Choir. Alifa. Yumna. Ledi. Atikah. Lotus. Azizah. Fajril. Faza. Luthfi (lagi). Nui. Robith. Fadhil. Firza. Nida. Nahla. Alsa. Riza. Wali. Tsani. Shofura. Dan lain-lain.
#i'mstillwaitingfor Gilang Audi, since last year -,-
Hari ini, aku benar-benar merasa hidup. Karena bagiku, hidup adalah ketika kita melangkah bersama dengan orang lain, ketika kita diakui keberadaannya. Dan ketika, aku bisa tersenyum bersama orang-orang disekitarku.
Ulang tahun kali ini nggak kunilai dari berapa banyak hadiah, atau berapa banyak ucapan Happy Birthday yang kuterima. Tapi ulang tahun kali ini terasa kuhayati dengan berapa banyak aku bisa berbagi, berapa banyak doa yang bisa kuberi, dan berapa pelukan yang kuterima dengan bisikan "Na, happy 17th ya, aku sayang kamu!"
Aku sayang kamu!
Betapa disayangi adalah sebuah kado yang bagiku tak ternilai. Disayangi teman-teman, keluarga di rumah kedua adalah satu hal yang selalu kuinginkan. Bukan. Bukan nilai kadonya yang membuatku terharu hari ini. Tapi, nilai kasih sayangnya, nilai perhatiannya.
Aku juga sayang kalian. Aku sayang Magnivic Alencearin, terutama yang akhwat, dan aku sayang Insan Cendekia.
Nilna. Dimas. Diva. Fathur. Luthfi. Kori. Caca. Muthi. Tyas. Choir. Alifa. Yumna. Ledi. Atikah. Lotus. Azizah. Fajril. Faza. Luthfi (lagi). Nui. Robith. Fadhil. Firza. Nida. Nahla. Alsa. Riza. Wali. Tsani. Shofura. Dan lain-lain.
#i'mstillwaitingfor Gilang Audi, since last year -,-
