kutatap sepasang mata sendu di hadapanku
mata itu balas menatapku, seakan mataku sama sendunya
seakan aku dan dia sama rapuhnya
Padahal tidak!
lihat saja, ia lebih menyedihkan dariku
dunia seakan memperlakukannya dengan sangat buruk
wajahnya lebih hitam karena sengatan matahari
rambutnya lebih kering terpanggang
kulitnya penuh luka
dan lihat, lihat
airmatanya mulai menetes
cengeng sekali ia, lemah
Kenapa gue menamakan entri ini "Bukan Nostalgia Biasa"? Sebab keinginan nostalgia lah yang membuat gue akhirnya melangkahkan kaki menjauhi rumah yang tenteram dan damai ini (halah).
Dua hari yang lalu, waktu lagi iseng buka album foto di laptop yang memuat foto-foto waktu masihSMP MTs, tiba-tiba gue ngerasa kangen. Di depan mata gue kebayang waktu gue sama temen-temen gue yang lain jalan-jalan ke detos, nonton, makan stik munmun yang murah tapi enak, ke toko buku, fotobox, kadang kita nyebrang ke margo, karaokean, makan pizza, ke toko aksesoris walaupun nggak beli apa-apa (gue nggak begitu suka aksesoris -,-), makan yoghurt, yah pokoknya kami melakukan banyak hal sambil tetep merhatiin dompet supaya nggak bocor. Gara-gara kebayang, gue jadi senyum-senyum sendiri dan tiba-tiba pengen jalan ala MTs lagi.
Gue akhirnya kontak Nurul buat nemenin gue jalan. Tapi, katanya Nurul nggak bisa. Baru akhirnya gue kontak Lita. Awalnya Lita nolak. Dia berusaha ngasih alternatif lain. Dia ngajak jalannya ke rumah Nurul aja, terus bikin kue berlima, ngobrol sampe sore. Dapet sms gitu dari Lita, gue refleks menggeleng. Padahal kan Lita nggak bakal tau sekuat apapun gue menggeleng -,-. Gue memutuskan untuk menanggapi dengan (sok) bijak seperti biasanya. Gue kirim sms yang intinya, kalo Lita nggak mau nemenin gue, nggak apa-apa gue cari temen lain yang mau nemenin (walaupun gue juga bingung siapa, niat awal gue adalah ngajak semua anak JINGGA yang, kalo gue liat dari keadaannya, pada nggak mungkin nyanggupin ikut). Diluar dugaan gue, Lita akhirnya mau nemenin gue (yeay). Gue bilang bakal ke rumah dia jam 10. Kita berangkat ke Depoknya naik angkot, gue nggak bawa motor. Dan gue bakal ke rumah dia jalan kaki (jarak rumah gue dan dia sekitar 1,5 Km).
Dua hari yang lalu, waktu lagi iseng buka album foto di laptop yang memuat foto-foto waktu masih
Gue akhirnya kontak Nurul buat nemenin gue jalan. Tapi, katanya Nurul nggak bisa. Baru akhirnya gue kontak Lita. Awalnya Lita nolak. Dia berusaha ngasih alternatif lain. Dia ngajak jalannya ke rumah Nurul aja, terus bikin kue berlima, ngobrol sampe sore. Dapet sms gitu dari Lita, gue refleks menggeleng. Padahal kan Lita nggak bakal tau sekuat apapun gue menggeleng -,-. Gue memutuskan untuk menanggapi dengan (sok) bijak seperti biasanya. Gue kirim sms yang intinya, kalo Lita nggak mau nemenin gue, nggak apa-apa gue cari temen lain yang mau nemenin (walaupun gue juga bingung siapa, niat awal gue adalah ngajak semua anak JINGGA yang, kalo gue liat dari keadaannya, pada nggak mungkin nyanggupin ikut). Diluar dugaan gue, Lita akhirnya mau nemenin gue (yeay). Gue bilang bakal ke rumah dia jam 10. Kita berangkat ke Depoknya naik angkot, gue nggak bawa motor. Dan gue bakal ke rumah dia jalan kaki (jarak rumah gue dan dia sekitar 1,5 Km).
Sore ini kenyang banget browsing tentang kuliah di luar negeri. Nggak tau kenapa, sejak dulu aku emang tertarik banget sama perkara kuliah di luar negeri. Sampe-sampe hari gini udah mulai nyari-nyari lembaga yang ngasih beasiswa buat kuliah di luar negeri. Nggak salah siih, toh setahun setengah lagi aku lulus (amin).
Sekitar tiga bulan yang lalu, seorang kakak kelasku, Kak Gian berangkat ke Jepang (sebenernya yang pergi bukan cuma Kak Gian, tapi berhubung cerita ini akan berujung hanya di beliau, jadi beliau saja yang kucantumkan). Beliau mengikuti programnya ILA yang diolah sama Surya Institute, beasiswa kuliah di Tohoku University jurusan Kimia Molekuler (bener nggak tulisannya).
Nah, beliau ini kan punya sepotong blog yang sering diupdate, kebetulan kemarin tak sengaja aku mampir ke blognya, dan membaca beberapa entri terbarunya. Melihat dan membaca entri-entri itu tiba-tiba (nggak tiba-tiba juga siih) aku jadi pengen nyusul ke Jepang. Maksudnya nyusul kuliah disana. Nggak mesti Jepang sih, yang penting kuliah di luar negeri.
Sekitar tiga bulan yang lalu, seorang kakak kelasku, Kak Gian berangkat ke Jepang (sebenernya yang pergi bukan cuma Kak Gian, tapi berhubung cerita ini akan berujung hanya di beliau, jadi beliau saja yang kucantumkan). Beliau mengikuti programnya ILA yang diolah sama Surya Institute, beasiswa kuliah di Tohoku University jurusan Kimia Molekuler (bener nggak tulisannya).
Nah, beliau ini kan punya sepotong blog yang sering diupdate, kebetulan kemarin tak sengaja aku mampir ke blognya, dan membaca beberapa entri terbarunya. Melihat dan membaca entri-entri itu tiba-tiba (nggak tiba-tiba juga siih) aku jadi pengen nyusul ke Jepang. Maksudnya nyusul kuliah disana. Nggak mesti Jepang sih, yang penting kuliah di luar negeri.
Rheina menatap pusara keluarganya
dengan wajah sendu. Tak ada yang bisa ia lakukan selain mengalirkan airmata
dalam diam. Ya, hanya dalam diam. Bukan pecahan tangis yang memekakkan telinga,
atau bahkan raungan tak teredam tanda kehilangan.
Rheina gamang. Ia tak tahu apa
tepatnya yang harusnya ia rasakan. Kadang, rasa sesal menyeruak dalam benaknya.
Andai ia tak pernah memutuskan sekolah berasrama, pasti di malam naas itu ia
sedang bersama keluarganya, berada di dalam mobil maut itu. Pasti.
Tapi terlepas dari itu, Rheina
sadar ia bukan anak kecil yang bisa terus-menerus larut dalam kesedihan. Ia
sudah dewasa. Dan sepinya hidup bukan alasan untuk menenggelamkan
kedewasaannya. Meski ia tahu benar, inilah makna kesepian yang sebenarnya.
Thanks God it's December. I feel so tired with everything in Insan Cendekia and I need a flash relax time with my family and my own world (laptop ft. handphone -,-). I haven't update my comic, my novel, and my another collection. Moreover, I haven't check that everything mine is still okay even it has been three months (or four?) since I left it here.
For this semester holiday, I've arranged some plans to spend my time, and one of them is "my family and I are going to Jogja". Yeah, that's not a big plan, but still that's enough to amuse me and relax me from dICtator (parah --"). Oh ya, talking about Jogja, my SHS friends are also going to there, most of them. I guess new year at Jogja will be so crowd. Better to cancel if you have a plan to spend your new year in Jogja, especially near from malioboro.
Oh ya, suddenly I remember, 2013 is getting closer.. Hiks.. And 2012 will leave me soon. Forgive me ya, if sometimes I hurt you (with my entry), and keep our moments in 2012 :D
Written by Anna Kumala
For this semester holiday, I've arranged some plans to spend my time, and one of them is "my family and I are going to Jogja". Yeah, that's not a big plan, but still that's enough to amuse me and relax me from dICtator (parah --"). Oh ya, talking about Jogja, my SHS friends are also going to there, most of them. I guess new year at Jogja will be so crowd. Better to cancel if you have a plan to spend your new year in Jogja, especially near from malioboro.
Oh ya, suddenly I remember, 2013 is getting closer.. Hiks.. And 2012 will leave me soon. Forgive me ya, if sometimes I hurt you (with my entry), and keep our moments in 2012 :D
Written by Anna Kumala
Dua tahun terkahir hidupku, aku merasakan benar apa yang tertulis di judul entri ini.
Betapa kata-kata berefek sangat besar untuk hal-hal yang tidak sederhana. Aku menyaksikan (atau merasakan) sendiri, bagaimana kata-kata bisa membuat seseorang jatuh dan merasa tidak berguna, kata-kata membangkitkan semangat seseorang, kata-kata memupuk dendam dan amarah, kata-kata merangsang emosi, kata-kata mengguncang tangis dan airmata, kata-kata menghadirkan senyum manis dan tawa lepas, kata-kata mengenali rasa rindu, cemas, gelisah, dan bahkan kata-kata melahirkan keinginan untuk maju melebihi apapun.
Maka, sangatlah berbahaya apabila ada kata-kata yang tak terucap dalam suatu hubungan horizontal sesama manusia.
Betapa kata-kata berefek sangat besar untuk hal-hal yang tidak sederhana. Aku menyaksikan (atau merasakan) sendiri, bagaimana kata-kata bisa membuat seseorang jatuh dan merasa tidak berguna, kata-kata membangkitkan semangat seseorang, kata-kata memupuk dendam dan amarah, kata-kata merangsang emosi, kata-kata mengguncang tangis dan airmata, kata-kata menghadirkan senyum manis dan tawa lepas, kata-kata mengenali rasa rindu, cemas, gelisah, dan bahkan kata-kata melahirkan keinginan untuk maju melebihi apapun.
Maka, sangatlah berbahaya apabila ada kata-kata yang tak terucap dalam suatu hubungan horizontal sesama manusia.
